Bio Farma Habiskan Dana Capex dan Opex untuk Penanganan Covid-19
- Komisi VI DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Holding BUMN Farmasi untuk membahas rencana investasi dan operasional empat perusahaan BUMN farmasi sepanjang tahun ini.
Sepanjang semester 1-2020, Direktur utama Bio Farma, Honesti Basyir mencatat operational expenditure (opex) Bio Farma mencapai Rp263 miliar. Penggunaannya paling banyak adalah untuk penanganan covid-19.
“Opex paling banyak untuk pengembangan vaksin kalau di biofarma. Dari pengadaan bahan bakunya, untuk uji klinis, lisensi, teknologi transfer dan nanti juga biaya yang kita butuhkan untuk CSR,” kata sia, Senin (5/10).
Direktur utama Bio Farma, Honesti Basyir mencatat bahwa sebanyak 656 relawan vaksin Sinovac telah menerima suntikan kedua. Jumlah tersebut hampir setengah dari total 1.319 relawan pada suntikan pertama.
Honesti mengatakan belum ada reaksi yang signifikan dari suntikan kedua ini. "Sampai saat ini belum ada reaksi serius dari suntikan ini. Mudah-mudahan ini bisa berjalan lancar supaya Januari bisa kami sampaikan hasilnya ke BPOM, sehingga Januari bisa produksi. InsyaAllah akhir Januari atau awal Februari bisa vaksinasi," kata dia dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VI, Senin (5/10).
Sementara itu, ada 244 relawan yang sudah diambil plasmanya untuk pengetesan, apakah 14 hari setelah penyuntikan kedua antibodi sudah terbentuk atau belum.
Dalam paparannya, Honesti menyampaikan komitmen untuk mendistribusikan sebanyak 15 juta dosis pada November dan Desember 2020. Selanjutnya 35 juta dosis pada Januari hingga Maret 2021, dan 210 juta dosis pada April hingga Desember 2020 sebagai prioritas.
Honesti menambahkan, persoalan lain dalam proses produksi vaksinasi ke depan adalah soal kehalalannya. Untuk itu, Honesti mengaku telah beraudiensi dengan Wapres Ma'ruf Amin MUI, dan Komisi Fatwa MUI untuk membicarakan soal kehalalan vaksin.
"Arahannya menggembirakan. Kalau halal sangat bagus, tapi kalau belum memenuhi unsur halal tetap diberikan vaksinasinya karena dalam kondisi pandemi," kata dia.
Rinciannya, untuk uji klinis SaraCOv - Sinovac Rp22,5 miliar, lisensi produk Covid-19 Rp96,5 miliar, pengembangan plasma convalesces Rp5,2 miliar.
Sementara, capex tercatat sebesar Rp152 miliar sampai dengan semester 1-2020. "Capex sendiri sekarang kita coba berikan untuk pengembangan produk penanganan covid-19 seperti PCR, reagen jadi dan juga untuk lab," kata Honesti.
"Sementara kapasitas produksi untuk vaksin sendiri kami tidak butuh investasi lagi" sambung dia.
Adapun rinciannya, untuk Mobile Lab BSL sebesar Rp3,64 miliar, dan fasilitas produksi PCR Rp30 miliar.





Komentar Via Facebook :