TERKINI
PHR Investasi pada SDM, Dorong Generasi Muda Riau Siap Hadapi Dunia KerjaRapat Paripurna Istimewa Hari Jadi Rohul Ke27, DPRD Dituntut Kawal Pembangunan dan AnggaranBupati Kampar, Ahmad Yuzar Ajak Pengurus Baru LAK Sinergi Bangun Kabupaten KamparBupati Anton Paparkan Capaian Pembangunan pada Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Rokan HuluDukung Atlet Disabilitas, Wabup Kampar, Misharti Lantik SOIna sekaligus Lepas Kontingen NasionalDisdikpora Kampar Izinkan Sekolah Terapkan PJJ Akibat Dampak Kabut AsapKades Birandang dan Petani Berikan Apresiasi Kepada Wabup Kampar Atas Rehabilitasi Daerah IrigasiPembelajaran Jarak Jauh Akibat Kabut Asap Diterapkan Disdikpora KamparWabup Kampar Ajak Lulusan STAI Al-Azhar Pekanbaru Berkontribusi dalam Pembangunan DaerahHut Ke 25 Tahun, Partai Demokrat Kampar Gelar Kemah di Tepi Sungai SubayangWabup Bengkalis Pimpin Upacara Hari Koperasi: Peran Koperasi Sebagai Penggerak Ekonomi RakyatFinal Piala Dunia FIFA 2026, Pemkab Rohil Gelar Nobar dan Sediakan Hidangan Gratis

Pelatihan Perempuan Buta Aksara Digelar DPPKBP3A Kampar

Pelatihan Perempuan Buta Aksara Digelar DPPKBP3A Kampar

KAMPAR  - Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan (DPPKBP3A) Kabupaten Kampar bekerja sama dengan SKB SPFM Salo dan Pekka  Salo Timur menggelar pelatihan perempuan buta.

Pelatihan yang berlangsung tiga hari ini Senin, Selasa dan Kamis (12,13,15/8/2024) ini berlangsung di Rumah Kayu Desa Salo Timur Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar.
Sebanyak 10 peserta perempuan yang buta aksara dari berbagai usia dari Desa Salo Timur. Untuk tenaga pendidiknya dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Salo.

Kepala Dinas PPKBP34 Kampar Edi Afrizal melalui Kabid Pemberdayaan Perempuan Ismulyati mengharapkan dengan pelatihan perempuan buta aksara ini, seluruh perempuan yang ada di desa dan kecamatan se-Kabupaten Kampar ini bebas buta aksara. Targetnya zero buta aksara.

"Karena ini akan berdampak kemiskinan ekstrem. Pernah ada kejadian di Salo Timur ada anak mendapatkan beasiswa, harus diurus ke bank. Sedangkan ibunya buta aksara. Tidak bisa menandatangani untuk pembukaan rekening di bank. Sehingga gagal mendapatkan beasiswa," jelas Ismulyati saat ditemui di Kantornya, Selasa (13/8/2024).

Ismulyati menambahkan, karena kejadian tersebut organisasi perempuan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) berinsiatif membuat kelompok belajar untuk perempuan buta aksara.***